Dari Hafalan ke Kesadaran Kebangsaan: Menggugat Cara Kita Belajar Sejarah

Oleh:

Keyla Aprillia Iskandar Pendidikan Sejarah

Pelajaran sejarah sering kali dibebani tuntutan untuk menyelesaikan banyak materi dalam waktu yang terbatas. Ada peristiwa yang harus dipahami, tokoh yang perlu dikenali, dan perubahan zaman yang harus dijelaskan. Semua itu memang bagian dari pembelajaran sejarah. Persoalannya muncul ketika banyaknya materi yang perlu dikuasai membuat pembelajaran kurang memberi ruang untuk membicarakan makna di balik peristiwa-peristiwa tersebut.

Dalam mempelajari sejarah Indonesia, misalnya, perjuangan kemerdekaan tidak hanya berkaitan dengan Proklamasi 17 Agustus 1945. Ada perubahan kondisi politik, perbedaan pandangan antarkelompok, dan keputusan yang diambil dalam situasi tertentu. Memahami proses tersebut membantu peserta didik melihat bahwa kemerdekaan merupakan hasil perjalanan sejarah yang kompleks, bukan kejadian yang berdiri sendiri.

Cara sejarah diajarkan turut menentukan kedalaman pemahaman itu. Ufie (2020) membahas perlunya pembelajaran sejarah yang inovatif dan melibatkan peserta didik secara aktif. Gagasan ini penting karena peserta didik tidak hanya perlu memperoleh informasi yang benar, tetapi juga perlu berlatih memahami konteks, menelaah sumber, dan menyusun penjelasan berdasarkan bukti.

Hal tersebut berkaitan dengan kesadaran kebangsaan. Pengetahuan tentang perjuangan bangsa menyediakan dasar untuk memahami identitas dan perjalanan Indonesia, tetapi pemaknaannya memerlukan proses belajar yang lebih luas. Sejarah juga perlu memberi ruang untuk membicarakan perbedaan, konflik, dan persoalan yang muncul dalam perjalanan bangsa. Penghargaan terhadap sejarah Indonesia dapat tumbuh bersama pemahaman yang kritis, tanpa harus menyederhanakan masa lalu menjadi cerita tentang keberhasilan semata.

Pembelajaran Sejarah Tidak Berhenti pada Penyampaian Materi

Sejarah mempelajari kehidupan manusia dalam konteks waktu. Peristiwa yang terjadi pada masa lalu berkaitan dengan keadaan sosial, politik, ekonomi, dan kebudayaan pada zamannya. Memahami hubungan tersebut membutuhkan lebih dari sekadar penguasaan informasi. Peserta didik perlu mengetahui alasan suatu peristiwa berlangsung, kondisi yang memengaruhinya, serta akibat yang muncul setelahnya.

Dalam praktik pembelajaran, penyelesaian materi dan pencapaian nilai merupakan bagian dari tuntutan pendidikan yang tidak dapat diabaikan. Namun, keduanya bukan satu-satunya ukuran keberhasilan belajar sejarah. Peserta didik juga perlu memperoleh kesempatan untuk mengembangkan penalaran sejarah, termasuk kemampuan membedakan fakta dan pendapat, menilai sumber, serta menyusun penjelasan yang didukung bukti.

Cara guru menyampaikan materi, kesempatan berdiskusi, ketersediaan sumber belajar, dan bentuk penilaian turut memengaruhi pengalaman belajar peserta didik. Penelitian Rahmawati et al. (2023) mengenai persepsi siswa terhadap pembelajaran sejarah menunjukkan adanya sejumlah kendala dalam pengalaman belajar, termasuk istilah yang sulit dipahami, kejenuhan, serta variasi media dan sumber belajar yang terbatas. Temuan tersebut berasal dari konteks penelitian tertentu sehingga tidak dapat langsung dianggap mewakili seluruh sekolah di Indonesia. Meski begitu, hasilnya menunjukkan bahwa cara materi disampaikan layak mendapat perhatian.

Penggunaan media yang beragam dapat memperkaya pembelajaran. Foto, peta, surat kabar sezaman, dokumen, dan kesaksian dapat membantu peserta didik mengenali keadaan pada masa lalu. Namun, media tidak otomatis membuat pembelajaran lebih

bermakna. Guru tetap perlu mengarahkan penggunaannya agar peserta didik tidak hanya melihat atau membaca sumber, tetapi juga memahami informasi yang terkandung di dalamnya.

Ketika mempelajari pergerakan nasional, misalnya, peserta didik dapat membandingkan pemberitaan surat kabar dengan penjelasan dalam buku sejarah. Mereka dapat mengidentifikasi perbedaan informasi, mempertimbangkan latar belakang sumber, dan menelaah keadaan yang memengaruhi penulisannya. Melalui kegiatan tersebut, peserta didik belajar bahwa pengetahuan sejarah dibangun melalui penelitian dan penafsiran terhadap bukti.

Paulo Freire dan Ruang Berpikir dalam Pembelajaran

Pemikiran Paulo Freire dalam Pendidikan Kaum Tertindas dapat digunakan untuk melihat hubungan antara guru dan peserta didik dalam proses belajar. Freire (2019) mengkritik pendidikan gaya bank, yaitu model pendidikan yang menempatkan guru sebagai pihak yang menyampaikan pengetahuan dan peserta didik sebagai penerima yang bertugas menyimpan informasi.

Kritik tersebut bukan berarti guru harus berhenti menjelaskan materi atau peserta didik bebas menentukan sendiri fakta sejarah yang ingin dipercayai. Justru guru tetap bertanggung jawab menyampaikan pengetahuan yang akurat, menjelaskan konteks, dan membimbing proses belajar. Akan tetapi ketika pembelajaran terlalu berpusat pada penyampaian informasi, kesempatan peserta didik untuk menguji pemahaman dan mengembangkan pemikirannya cenderung kurang diperhatikan.

Dalam pembelajaran sejarah, keadaan semacam itu dapat membatasi kesempatan peserta didik untuk memahami bagaimana suatu penjelasan sejarah dibentuk. Mereka mungkin memperoleh informasi mengenai suatu peristiwa, tetapi belum tentu diajak menelaah sumber yang mendasarinya atau memahami alasan di balik perbedaan penafsiran.

Pemikiran Freire dapat menjadi landasan untuk membangun pembelajaran yang lebih dialogis. Guru dapat mengajak peserta didik membaca dokumen sejarah, menyampaikan hasil pengamatan, dan mendiskusikan perbedaan penafsiran. Setiap pendapat kemudian diperiksa berdasarkan bukti yang tersedia. Diskusi tidak sekadar menjadi kesempatan untuk berbicara, tetapi juga latihan menyusun argumen dan menerima koreksi.

Pendekatan tersebut membutuhkan keterlibatan kedua pihak. Peserta didik perlu aktif mengembangkan pemahaman, sedangkan guru bertugas menjaga agar diskusi tetap berada dalam konteks sejarah yang tepat. Ketika suatu kesimpulan tidak sesuai dengan bukti, peserta didik perlu mengetahui letak kekeliruannya dan memperbaiki penjelasan mereka.

Pembelajaran sejarah yang kritis juga tidak berarti semua fakta harus diperlakukan seolah-olah kebenarannya tidak dapat diketahui. Fakta tetap perlu diperiksa dan dibedakan dari penafsiran. Sikap kritis ini menuntut kehati-hatian dalam menerima informasi, terutama ketika suatu pernyataan disampaikan tanpa sumber yang jelas.

Memahami Perjuangan Kemerdekaan dan Perbedaan Pandangan

Proses menuju Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dapat memperlihatkan bagaimana pembelajaran sejarah membantu peserta didik memahami perjalanan bangsa. Proklamasi pada 17 Agustus 1945 merupakan peristiwa penting, tetapi proses yang mendahuluinya juga memperlihatkan dinamika politik dan perbedaan pertimbangan di antara para pelaku sejarah.

Perbedaan pandangan antara golongan muda dan golongan tua menjelang proklamasi, misalnya, berkaitan dengan situasi politik setelah Jepang menyerah kepada Sekutu serta pertimbangan mengenai waktu pelaksanaan proklamasi. Pembahasan mengenai perbedaan tersebut membantu peserta didik memahami bahwa para pelaku sejarah mengambil keputusan dalam keadaan tertentu, dengan informasi dan pertimbangan yang tidak selalu sama.

Guru dapat mengajak peserta didik menelaah alasan di balik sikap masing-masing kelompok melalui sumber sejarah yang relevan. Pembahasan tidak harus berhenti pada penentuan pihak yang dianggap benar atau salah, melainkan diarahkan pada konteks yang membentuk keputusan mereka, konsekuensi pilihan yang diambil, serta bagaimana perbedaan pandangan itu menjadi bagian dari proses menuju kemerdekaan.

Dari contoh tersebut, peserta didik dapat memahami bahwa persatuan tidak selalu berarti keseragaman pendapat. Perjalanan bangsa Indonesia melibatkan berbagai kelompok dengan latar belakang, kepentingan, dan cara pandang yang berbeda. Perbedaan itu perlu dipahami dalam konteksnya, bukan dihapus dari cerita sejarah agar masa lalu tampak lebih sederhana.

Cara mempelajari sejarah seperti ini berkaitan dengan pembentukan kesadaran kebangsaan. Peserta didik memperoleh kesempatan untuk memahami bahwa kemerdekaan lahir melalui proses yang melibatkan banyak pihak dan keputusan dalam keadaan yang kompleks. Mereka juga dapat mempelajari bahwa kehidupan bersama membutuhkan upaya menghadapi perbedaan, membangun kerja sama, dan mempertimbangkan kepentingan yang lebih luas.

Izzati (2013), dalam penelitiannya mengenai internalisasi nilai-nilai nasionalisme dalam pembelajaran sejarah di SMA Negeri I Cangkringan, membahas penerapan nilai nasionalisme melalui kegiatan pembelajaran dan aktivitas di luar kelas. Kajian tersebut mencatat penggunaan metode pembelajaran seperti ceramah, debat aktif, dan diskusi kelompok. Temuan ini memberikan gambaran mengenai upaya menghubungkan pembelajaran sejarah dengan nilai kebangsaan dalam konteks sekolah yang diteliti.

Kesadaran kebangsaan ada baiknya tidak hanya dibangun dengan menempatkan seluruh tindakan tokoh masa lalu sebagai sesuatu yang selalu benar, sebab sejarah Indonesia juga mencakup konflik, ketidakadilan, dan keputusan yang membawa konsekuensi berbeda bagi berbagai kelompok masyarakat. Mempelajari sisi-sisi tersebut tidak menghapus arti perjuangan kemerdekaan. Pembahasan yang didukung bukti justru dapat membantu peserta didik memahami perjalanan bangsa secara lebih utuh.

Membawa Pengetahuan Sejarah ke Kehidupan Masa Kini

Pelajaran sejarah terasa lebih dekat dengan kehidupan ketika peserta didik dapat menghubungkan pengalaman masyarakat pada masa lalu dengan persoalan yang mereka temui sekarang. Hubungan tersebut perlu dibangun dengan memperhatikan perbedaan konteks. Keadaan masyarakat pada masa kolonial, misalnya, tidak dapat disamakan begitu saja dengan kondisi Indonesia saat ini.

Pengalaman pergerakan nasional dapat menjadi bahan untuk mempelajari peran organisasi, pendidikan, pers, dan kegiatan politik dalam perkembangan kesadaran kebangsaan. Peserta didik dapat menelaah bagaimana gagasan mengenai kemerdekaan dan identitas bersama berkembang melalui berbagai aktivitas masyarakat. Pembahasan tersebut kemudian dapat digunakan untuk memahami peran pendidikan dan komunikasi dalam kehidupan kebangsaan sekarang, tanpa menganggap kedua periode memiliki keadaan yang sama.

Kegiatan pembelajaran juga dapat diarahkan pada persoalan konkret. Ketika membahas keberagaman masyarakat Indonesia, misalnya, peserta didik dapat mempelajari  bagaimana  identitas  dan  solidaritas kebangsaan berkembang dalam konteks sejarah tertentu. Mereka juga dapat menelaah bagaimana perbedaan kepentingan memengaruhi hubungan antarkelompok. Keberagaman tidak lagi hanya menjadi istilah dalam buku pelajaran, tetapi dapat dipahami melalui pengalaman masyarakat yang memiliki latar belakang sejarah berbeda.

Pemilihan metode pembelajaran tetap perlu disesuaikan dengan tujuan dan materi. Marharjono (2019), melalui penelitian tindakan kelas di SMA Negeri 1 Sewon, membahas penggunaan metode mind mapping untuk meningkatkan minat dan prestasi belajar sejarah. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa variasi metode dapat digunakan untuk mendukung proses belajar dalam konteks yang diteliti. Namun, peningkatan minat dan prestasi akademik tidak dengan sendirinya membuktikan terbentuknya kesadaran kebangsaan. Untuk mencapai tujuan tersebut, kegiatan pembelajaran perlu memberi ruang bagi peserta didik untuk menelaah pengalaman sejarah dan menghubungkannya dengan persoalan kehidupan bersama.

Perubahan pembelajaran tidak harus menghapus kegiatan ceramah, hafalan, atau penilaian. Penjelasan guru tetap dibutuhkan untuk membangun pemahaman dasar, sementara penguasaan fakta membantu peserta didik menempatkan suatu peristiwa dalam urutan waktu yang tepat. Maka dari itu, hal yang perlu diperluas ialah kesempatan untuk memeriksa sumber, mengembangkan penjelasan, dan mendiskusikan makna peristiwa dalam konteks yang lebih luas.

Sejarah yang Dipahami, Kebangsaan yang Dimaknai

Pembelajaran sejarah tidak hanya berkaitan dengan penguasaan informasi tentang masa lalu. Tanggal, nama tokoh, dan urutan peristiwa tetap penting, tetapi pengetahuan tersebut juga perlu digunakan untuk memahami konteks, hubungan sebab-akibat, serta pengalaman masyarakat yang membentuk perjalanan Indonesia.

Kritik Paulo Freire terhadap pendidikan gaya bank mengingatkan bahwa peserta didik perlu memperoleh ruang untuk terlibat dalam proses belajar. Dalam pembelajaran sejarah, keterlibatan itu dapat diwujudkan melalui pembacaan sumber, diskusi, dan penyusunan  argumen  berdasarkan  bukti.  Guru  tetap  berperan  penting  dalam memberikan konteks, memastikan ketepatan fakta, dan membimbing peserta didik mengembangkan penalaran sejarah.

Kesadaran kebangsaan membutuhkan pemahaman terhadap perjalanan bangsa beserta perbedaan dan persoalan yang menyertainya. Kisah perjuangan kemerdekaan tetap penting dipelajari, tetapi pemaknaannya akan lebih luas ketika peserta didik juga memahami proses, pertimbangan, dan dinamika masyarakat yang melatarbelakanginya.

Menggugat cara kita belajar sejarah bukan berarti menolak hafalan atau mengabaikan pengetahuan dasar, melainkan memperhatikan perihal bagaimana pengetahuan itu dikembangkan menjadi pemahaman yang dapat dipertanggungjawabkan. Pembelajaran sejarah yang memberi ruang bagi penalaran dan penelaahan bukti dapat membantu peserta didik memahami bangsanya tanpa harus menyederhanakan masa lalu.

RUJUKAN / REFERENSI

Freire, P. (2019). Pendidikan Kaum Tertindas (Y. W. Pradana, Penerj.). Narasi.

Izzati, I. M. (2013). Internalisasi nilai-nilai nasionalisme dalam pembelajaran sejarah di SMA Negeri I Cangkringan [Skripsi sarjana, Universitas Negeri Yogyakarta]. Lumbung Pustaka Universitas Negeri Yogyakarta. https://eprints.uny.ac.id/21683/

Marharjono. (2019). Upaya peningkatan minat dan prestasi belajar sejarah melalui metode mind mapping pada siswa kelas X IPA 1 SMA Negeri 1 Sewon. Ideguru: Jurnal Karya                 Ilmiah   Guru,   4(2),     69–75. https://jurnal-dikpora.jogjaprov.go.id/index.php/jurnalideguru/article/view/96/111

Rahmawati, B. F., Hadi, M. S., & Hubaidiyah, H. (2023). Citra pembelajaran sejarah dalam persepsi siswa. Jurnal Humanitas: Katalisator Perubahan dan Inovator Pendidikan,                   9(1),        96–109. https://e-journal.hamzanwadi.ac.id/index.php/jhm/article/view/7497/pdf

Ufie, A. (2020). Menggagas pembelajaran sejarah yang inovatif melalui pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) berbasis Student Centre and Active (SCA). Pedagogika: Jurnal Pedagogik dan Dinamika Pendidikan, 8(1), 1–10. https://ojs3.unpatti.ac.id/index.php/pedagogika/article/view/2300/1946

TENTANG PENULIS

Keyla Aprillia Iskandar merupakan mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Siliwangi. Ia memiliki ketertarikan pada kajian sejarah, pendidikan, sosial, dan politik. Melalui kegiatan membaca dan menulis, ia berupaya mengembangkan pemikiran kritis serta menghubungkan kajian sejarah dengan persoalan kehidupan masyarakat. Penulis dapat dihubungi melalui Instagram @klyuchla_ atau email [email protected]