SEJARAH YANG BERCABANG: MEMAKNAI KIAMAT-KIAMAT KECIL DEMI KEBANGSAAN YANG UTUH

Oleh:

Siti Latopah

Pendidikan Sejarah

1. PENDAHULUAN

Bayangkan sebuah rumah sederhana di pinggir kota. Di ruang tamunya ada foto keluarga yang selalu dibalik menghadap tembok. Anak-anak tumbuh besar tanpa tahu siapa orang di foto itu, dan tak seorang pun berani menjelaskan. Rumah itu mungkin hanya rekaan, tetapi ceritanya tidak asing. Di banyak keluarga ada nama yang jarang disebut, ada peristiwa yang hanya dibicarakan sambil berbisik, dan ada pertanyaan anak yang dijawab dengan “sudahlah”. Kalau rumah kecil itu kita perbesar, bentuknya mirip dengan negeri ini. Setiap bangsa pernah tergoda untuk merapikan masa lalunya, menyisakan yang membanggakan dan menyimpan yang menyakitkan. Padahal bangsa bukan pameran yang hanya memajang foto terbaik. Ia adalah rumah yang dihuni banyak orang, dan tak semua penghuninya punya cerita yang sama. Maka pertanyaannya: sejarah siapa yang sebenarnya kita hafal di bangku sekolah, dan sejarah siapa yang selama ini dibalik menghadap tembok? Tulisan ini mengajak kita memaknai peristiwa-peristiwa yang pernah meruntuhkan dunia sebagian warga, agar kebangsaan kita tidak hanya megah di ruang tamu, tetapi utuh sampaike kamar yang terkunci.

2. ISI

Kiamat-Kiamat Kecil yang Terpinggirkan

Kiamat kecil merupakan peristiwa yang menghancurkan kehidupan sekelompok orang, mulai dari kehilangan tempat tinggal, terpisah dari keluarga, hingga terlupakan dari ingatan. Bagi mereka yang mengalaminya, peristiwa tersebut seolah menjadi akhir dari segalanya. Namun, dalam sejarah suatu bangsa, kejadian seperti ini sering kali hanya mendapat sedikit ruang dalam buku pelajaran, bahkan tidak dicatat sama sekali. Istilah “kecil” bukan berarti dampak yang ditimbulkan tidak besar, melainkan karena peristiwa tersebut kurang mendapat perhatian dalam narasi sejarah nasional. Penulisan sejarah cenderung lebih banyak menyoroti kemenangan perang, kejayaan kerajaan, dan tokoh-tokoh besar, sementara pengalaman mereka yang kalah, tersingkir, dan tidak memiliki kesempatan untuk bersuara justru sering terabaikan.

Ungkapan “sejarah ditulis oleh para pemenang” bukan berarti seluruh penulisan sejarah harus diragukan, melainkan menjadi pengingat bahwa kita perlu memahami sejarah dari berbagai sudut pandang. Siapa saja yang mengalami kehilangan? Bagaimana nasib mereka yang kalah? Dan kisah siapa yang selama ini belum mendapatkan tempat dalam sejarah? Terlebih lagi, sejarah lebih mudah mencatat kehidupan orang-orang yang memiliki kekuasaan, jabatan, atau meninggalkan dokumen, sedangkan pengalaman masyarakat biasa yang tidak banyak tercatat dalam arsip lebih rentan terlupakan. Mengenang masa lalu melalui kisah kejayaan memang dapat menumbuhkan kebanggaan. Kisah tersebut belum tentu keliru, tetapi sering kali hanya memperlihatkan sebagian dari kenyataan. Peristiwa yang membanggakan terus dikenang, sementara bagian yang menyakitkan atau kurang menyenangkan cenderung dikesampingkan. Padahal, memahami sejarah juga berarti bersedia menerima bahwa perjalanan suatu bangsa tidak selalu diwarnai keberhasilan. Ada pula kesalahan, pengabaian, bahkan tindakan yang merugikan sesama yang perlu diakui sebagai bagian dari sejarah.

Banda 1621: Pulau Pala dan Catatan Para Penakluk

Pada 1621, VOC di bawah Jan Pieterszoon Coen menyerbu Kepulauan Banda untuk menguasai perdagangan pala. Ribuan orang Banda tewas, diperbudak, atau mengungsi, dan puluhan tokoh adat dieksekusi (Hanna, 1978; Ricklefs, 2008). Sebuah masyarakat penghasil rempah yang mapan nyaris terhapus dari tanahnya sendiri. Sebagian besar rujukan tertulis tentang peristiwa ini berasal dari arsip pihak penakluk, sementara suara orang Banda lebih banyak bertahan lewat tutur dan ingatan keluarga. Inilah makna “ditulis oleh pemenang” yang paling harfiah: yang memegang pena menentukan siapa yang tampak sebagai pelaku dan siapa yang hanya menjadi angka.

Bagi kebangsaan, maknanya sederhana tetapi dalam. Jauh sebelum ada Indonesia, sudah ada masyarakat yang dihancurkan demi perdagangan. Kesadaran berbangsa dapat dimulai dari mengakui bahwa kita mewarisi bukan hanya kejayaan rempah, tetapi juga harga yang dibayar oleh orang-orang yang menumbuhkannya.

1965-66: Satu Cerita yang Diputar Berulang

Setelah peristiwa 30 September 1965, kekerasan massal terjadi di berbagai daerah. Perkiraan jumlah korban berbeda-beda di antara para peneliti, tetapi semuanya menunjuk pada tragedi yang sangat besar (Cribb, 1990; Roosa, 2006). Banyak orang dibunuh, dipenjara tanpa pengadilan, atau kehilangan pekerjaan dan hak sebagai warga. Selama puluhan tahun, ruang publik didominasi satu versi cerita lewat pelajaran sekolah dan tontonan yang diulang setiap

tahun. Mereka yang punya cerita lain, termasuk keluarga korban, lebih sering memilih diam atau menanggung stigma yang diwariskan kepada anak cucu. Satu cerita yang terlalu sering diulang dapat membuat cerita lain terasa seolah tak pernah ada.

Bagi kebangsaan, pelajarannya jelas. Bangsa yang hanya mengizinkan satu cerita membuat sebagian warganya merasa asing di rumahnya sendiri. Kesadaran berbangsa menuntut ruang yang aman bagi anak dan cucu yang ingin tahu apa yang sebenarnya dialami keluarganya.

Mei 1998: Bulan yang Belum Selesai

Pada Mei 1998, kerusuhan melanda Jakarta dan sejumlah kota lain. Toko dan rumah dibakar, banyak orang kehilangan nyawa, dan Tim Gabungan Pencari Fakta mencatat adanya kekerasan seksual, terutama terhadap perempuan etnis Tionghoa (Tim Gabungan Pencari Fakta, 1998). Dua puluh delapan tahun kemudian, angka dan kesaksian masih sering diperdebatkan, sementara para penyintas dan keluarganya hidup dengan kehilangan yang jarang benar-benar dibicarakan. Perdebatan tentang “berapa” kadang membuat kita lupa bertanya “siapa mereka” dan “apa yang mereka alami”.

Bagi kebangsaan, mendengar korban bukan berarti menuduh bangsa sendiri. Itu cara menunjukkan bahwa setiap warga dianggap berharga, apa pun etnis dan jenis kelaminnya. Bangsa yang percaya diri tidak takut mendengar bagian ceritanya yang paling sulit.

Kebangsaan yang Utuh: Mengingat Tanpa Melukai

Tiga peristiwa itu berbeda zaman, pelaku, dan korbannya. Benang merahnya sama: dunia sebagian warga runtuh, lalu ceritanya disisihkan dari cerita besar. Di sinilah sejarah tampak bercabang, bukan satu garis lurus kemenangan, melainkan banyak pengalaman yang berjalan bersamaan. Ada yang diterangi, ada yang dibiarkan gelap.

Pemikir Prancis Ernest Renan (1882) pernah berpendapat bahwa melupakan sebagian masa lalu justru diperlukan agar sebuah bangsa dapat terbentuk. Ada benarnya: bangsa tak mungkin hidup jika terus saling menagih dendam. Tetapi lupa yang diputuskan dari atas berbeda dengan ikhlas yang dipilih sendiri oleh para korban. Ketika yang dilupakan adalah penderitaan sebagian warga, yang tumbuh bukan persatuan, melainkan jarak. Maka pelajaran dari tiga kiamat kecil tadi: bangsa tak perlu melupakan untuk bersatu, ia perlu mengingat dengan cara yang tidak lagi menyakiti.

Trauma tidak akan selesai jika tidak berani dihadapi. Mengingat adalah salah satu cara mencernanya, dan mengakui bahwa peristiwa itu memang trauma juga proses yang harus dilewati. Bangsa pun demikian: luka bersama tidak hilang karena dilupakan, ia hanya

berpindah menjadi curiga, takut, dan jarak antarwarga. Mengakui luka bukan berarti mengorek dendam atau menyalahkan seluruh bangsa. Mengakui berarti berkata kepada mereka yang selama ini terdiam: “kami melihat kalian, dan kalian bagian dari kami.” Dari situlah kesadaran kebangsaan tumbuh, bukan dari kebanggaan yang dipaksakan, melainkan dari rasa saling memiliki yang jujur.

Kita tak perlu menunggu momentum besar untuk memulai. Tanyakan kepada kakek dan nenek tentang kampung mereka dulu. Baca sejarah daerah sendiri. Dengarkan cerita yang tak ada di buku pelajaran. Dan setiap kali selesai membaca sebuah kisah sejarah, biasakan dua pertanyaan sederhana: siapa yang tidak muncul di dalamnya, dan bagian tak enak apa yang tidak diceritakan tentang kita sendiri?

3. KESIMPULAN & PESAN

Banda 1621, 1965-66, dan Mei 1998 berbeda zaman, tetapi sama dalam satu hal: dunia sebagian warga runtuh, lalu ceritanya disisihkan dari cerita besar bangsa. Kebangsaan yang kuat bukan kebangsaan yang bersih dari luka, melainkan yang berani mengakuinya dan memberi tempat bagi semua suara. Rumah yang baik bukan yang semua kamarnya tampak rapi, melainkan yang berani membuka pintunya. Foto yang dibalik itu pun, suatu hari, boleh dihadapkan kembali ke ruang tamu. Di situlah kebangsaan menjadi utuh.

RUJUKAN

Cribb, R. (Ed.). (1990). The Indonesian killings of 1965–1966: Studies from Java and Bali. Clayton: Monash University Centre of Southeast Asian Studies.

Hanna, W. A. (1978). Indonesian Banda: Colonialism and its aftermath in the Nutmeg Islands. Philadelphia: Institute for the Study of Human Issues.

Renan, E. (1882). Qu’est-ce qu’une nation? Paris: Calmann Lévy.

Ricklefs, M. C. (2008). Sejarah Indonesia modern 1200–2008. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta.

Roosa, J. (2006). Pretext for mass murder: The September 30th Movement and Suharto’s coup d’état in Indonesia. Madison: University of Wisconsin Press.

Tim Gabungan Pencari Fakta. (1998). Laporan akhir Tim Gabungan Pencari Fakta peristiwa kerusuhan 13–15 Mei 1998. Jakarta.

TENTANG PENULIS

Siti latopah adalah mahasiswa aktif Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Siliwangi. Saat ini sedang menempuh perkuliahan di semester 3 (tiga). Sapa penulis melalui Instagram @stii.latopah atau email [email protected].