ISLAMISASI PAMIJAHAN OLEH SYEKH ABDUL MUHYI MELALUI ‘MARTABAT KANG PITUTU’ MASA KOLONIAL BELANDA

Syekh Abdul Muhyi merupakan salah satu ulama besar yang berperan penting dalam penyebaran Islam di Pamijahan, Tasikmalaya, melalui ajaran tasawuf. Lahir di Mataram, beliau memiliki garis keturunan dari Nabi Muhammad Saw melalui kedua orang tua nya. Syekh Abdul Muhyi memulai perjalanan intelektual nya di Gresik sebelum melanjutkan pendidikan agama di Aceh selama delapan tahun (1090-1098 M). Setelah itu, ia melanjutkan ke Baghdad untuk berziarah ke makam Syekh Abdul Qadir al-Jailani, lalu kembali ke Jawa dengan tujuan menyebarkan ajaran Islam.

Setibanya di Jawa Barat, Syekh Abdul Muhyi menyebarkan ajaran Islam di beberapa daerah seperti Darma Kuningan dan Pameungpeuk. Di Pamijahan, ia menghadapi berbagai tantangan, terutama dari kalangan dukun yang menolak ajaran baru ini. Namun, pendekatan tasawuf yang digunakan, yang mengakomodasi kepercayaan lokal, berhasil memenangkan hati masyarakat setempat.

Ajaran Tasawuf Martabat Kang Pitutu 

Syekh Abdul Muhyi dikenal dengan ajaran Martabat Kang Pitutu, yang didasarkan pada konsep tasawuf Martabat Tujuh. Ajaran ini berfokus pada penyatuan manusia dengan Tuhan dalam kerangka Wahdatul Wujud. Martabat Tujuh merupakan ajaran sufi yang dipopulerkan oleh Muhammad Fadlullah al-Burhanpuri melalui kitab Al-Tuhfah al-Mursalah ila Ruhi an-Nabi. Konsep ini dikembangkan oleh ulama sufi di Aceh pada abad ke-17 dan diteruskan oleh Syekh Abdul Muhyi di Jawa Barat.

Ajaran Martabat Kang Pitutu terbagi menjadi tujuh alam: Ahadiyah, Wahdah, Wahidiyah, Arwah, Mistal, Ajsam, dan Jami’ah. Setiap alam ini menjelaskan tahapan penciptaan dan perjalanan spiritual manusia menuju kesempurnaan. Misalnya, Alam Ahadiyah adalah tingkat wujud tertinggi yang terbebas dari segala sifat dan ikatan duniawi, sedangkan Alam Jami’ah merupakan penyempurnaan dari seluruh ruh yang telah menjalani proses spiritual hingga mencapai Insan Kamil (manusia sempurna).

Peran Syekh Abdul Muhyi dalam Pergerakan Islam

Selain menyebarkan ajaran Martabat Kang Pitutu, Syekh Abdul Muhyi juga berperan penting dalam mengislamkan masyarakat Pamijahan. Ajaran sufisme yang ia bawa diterima dengan baik karena mengintegrasikan elemen-elemen budaya lokal, memudahkan penerimaan Islam oleh masyarakat yang sebelumnya memeluk agama Hindu atau kepercayaan lokal. 

Islamisasi ini tidak hanya menyentuh aspek spiritual, tetapi juga menciptakan kesadaran kolektif untuk melawan ketidakadilan dan berjuang di jalan Allah.

Islamisasi di Pamijahan oleh Syekh Abdul Muhyi dalam Konteks Kolonial Belanda

Syekh Abdul Muhyi memainkan peran penting dalam penyebaran ajaran Islam di Tasikmalaya, khususnya di Pamijahan, di tengah-tengah kekuasaan kolonial Belanda. Pada abad ke-17, Belanda mulai memperkuat cengkeraman mereka di Pulau Jawa setelah mendirikan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) pada tahun 1602. Pada masa itu, Belanda terlibat dalam berbagai perjanjian politik dengan kerajaan-kerajaan lokal dan mengawasi perdagangan, sehingga membawa dampak besar terhadap kehidupan sosial dan ekonomi di wilayah tersebut.

Meskipun Belanda secara politik mengontrol sebagian besar wilayah Jawa, mereka masih menghadapi tantangan dalam mengendalikan wilayah pedalaman seperti Tasikmalaya. Pada saat itu, ajaran Islam dan tasawuf menjadi alternatif spiritual dan sosial yang menguat di masyarakat. Syekh Abdul Muhyi, dengan ajaran tasawuf nya yang dikenal sebagai Martabat Kang Pitutu, berhasil mendapatkan tempat di hati masyarakat karena pendekatannya yang inklusif dan damai, berbeda dengan pendekatan kolonial yang lebih represif.

Peran Syekh Abdul Muhyi dalam Membangun Kesadaran Melawan Kolonialisme

Islamisasi yang dilakukan oleh Syekh Abdul Muhyi tidak hanya fokus pada aspek spiritual, tetapi juga mendorong masyarakat untuk menyadari hak-hak mereka di bawah penjajahan. Pada masa itu, Tasikmalaya merupakan salah satu wilayah yang dilanda ketimpangan sosial akibat kebijakan ekonomi kolonial yang memaksa rakyat untuk mematuhi sistem tanam paksa dan pajak yang tinggi. Syekh Abdul Muhyi mengajarkan pentingnya persatuan dan keteguhan iman dalam menghadapi ketidakadilan, yang menjadi kekuatan pendorong bagi masyarakat lokal untuk melawan penindasan kolonial. Selain menyebarkan ajaran Islam, Syekh Abdul Muhyi juga memainkan peran penting dalam membangun jaringan sosial yang menghubungkan para pemimpin lokal dengan komunitas Muslim di wilayah lainnya. Jaringan ini, yang sebagian besar terhubung melalui kegiatan agama, membantu memperkuat solidaritas masyarakat dalam menghadapi pengaruh Kolonialisme Belanda.


Referensi

Iffan Ahmad Gufron, Mukhtasar Syamsuddin, dan Arqom Kuswanjono. Makna Martabat Pitu dalam Perspektif Filsafat. Perpustakaan UGM, 2017, Hal. 5-6.

Ajaran Martabat Tujuh pertama kali dipopulerkan oleh Muhammad Fadlullah al-Burhanpuri dan dikembangkan oleh Syekh Abdul Muhyi di Pamijahan. Lihat Ibid., hlm. 8.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *